Ketika kapal ferri yang saya tumpangi mulai merapat di Bakauheni Lampung, rasa haru meliputi diri saya. Sebentar lagi, kaki ini menjejak di tanah asal usul orang tua saya; saya kembali ke “rumah”. Agaknya, perasaan semacam itu akan meliputi diri para alumni FEUI yang tidak lama lagi akan mulai berdatangan ke almamaternya tercinta. Tidak jadi soal, apakah dahulu mereka kuliahnya di Salemba atau di Depok, perasaan haru karena pulang ke rumah almamater akan menggelayut di hati mereka juga. Saya pun tidak lahir dan tidak pernah tinggal di Lampung, tetapi ada kesadaran seterang-terangnyanya, saya pulang ke tanah asal usul. Para alumni itu pun akan merasakan hal yang sama, pulang ke almamaternya.
Para alumni itu akan berdatangan, dimulai dengan silaturahmi Dekan dengan para alumni FEUI yang berkiprah di bidang pertelevisian, ataupun dengan forum perwakilan angkatan . Selain itu, akan ada lebih banyak lagi alumni yang datang dalam rangka memeriahkan perayaan HUT FEUI ke 55 di bulan September nanti, di samping ada yang datang mengantar anak mendaftarkan diri di FEUI. Setiap tahun ada saja anak-anak para alumni FEUI yang napak tilas jejak orang tuanya, kuliah di FEUI.
Dalam waktu dekat ini, tepatnya hari Sabtu, 11 Juni 2005, para alumni FEUI di bidang pertelevisian akan datang melihat rumah almamaternya. Mereka akan diterima pimpinan fakultas. Di kalangan alumni atau mahasiswa, mungkin tidak banyak yang sadar bahwa di RCTI, pengendali programnya adalah Lala Hamid’81; penentu program Indosiar adalah Triyandi Suyatman 81; bos keuangan TVRI adalah John Sebayang’88; presenter beken Metro TV adalah Kania ‘95 dan Tia Yufada’93 ; atau presenter SCTV yang sering muncul adalah Vito’95, Eva Yunizar’97 dan Ira Kusno ‘88 (yang kini sudah lebih aktif mendirikan usaha sendiri IK Pro).; di Direktur Sales Global TV adalah Safrudin ’75; manajer program TPI adalah Syarifudin Kurdi. Masih ada lagi alumni lebih senior macam Tito Sulistio 74 (arsitek revitalisasi TPI), Kepra 77 yang biasa menjadi entertainer dan pengemas program promosi di TV dan berbagai forum, hingga Sugeng alumni pasca FEUI (S3) yang berposisi sebagai Dirkeu SCTV. Memang “boleh” kualitas anak-anak almamater FEUI, mereka tidak hanya mampu mengisi formasi yang terkait langsung dengan keahliannya di bidang keuangan; tetapi dengan bekal kecerdasannya malah mampu pula menjadi pengendali program atau penyampai berita.
Untuk apa mereka diminta datang ? Karena ini adalah zaman di mana almamater tidak bisa lagi hidup mengandalkan subsidi. Para alumni FEUI tentunya tidak lantas akan dimintai duit, tetapi akan diajak mengenal suasana kampus FEUInya kini, yang dahulu dicanangkan sebagai “FEUIku kini, Indonesiaku kemudian” (begitu bait-bait lagu mapram/opspek). Para alumni itu diharapkan akan mau berkesempatan membantu penyebaran berita kegiatan dan gagasan pemikiran FEUI. Diharapkan juga senantiasa ada kedekatan dan terbangun rantai jaringan komunikasi antara para alumni FEUI itu dengan generasi FEUI kini dan mendatang.
Di FEUI Depok yang asri, para alumni itu kembali pulang. Mereka akan mendapati ciri khas FEUInya : lorong bersambung, bangku-bangku taman bercat merah mengitari air mancur (yang berfungsi untuk menceburkan mahasiswa yang lulus “compre”). Welcome home alumni !!!
__________
*oleh: Deputi Kerjasama & Hubungan Alumni
darwin z. saleh