Kamis, 23 Juni terasa sekali sebagai saat yang membuat berbunga-bunga hati kami yang hadir saat itu, dan saya kira kita semua keluarga besar FEUI. Ketika itu, pimpinan FEUI 2005-2009 bertandang ke kantor Eri Firmansyah’75 (dirut BEJ), dilanjutkan dengan perjumpaan hangat dengan tiga orang eksponen angkatan 75 (Ilham, Dennis dan Bintoro) di Automal. Besar hati rasanya mendengar rencana BEJ menawarkan bea siswa dan prospek kerja di BEJ kepada mahasiswa FEUI berprestasi; cerah hati mendengar Pertamina akan menawarkan bea siswa dan kemungkinan penggantian computer di Labkom yang sudah “kuno” kepada FEUI. Angkatan yang satu ini memang terkenal kompaknya dan rajin rutin bertemu setiap tahun, di samping sejumlah angkatan lain yang juga kompak.
Tetapi, termangu-mangu dan terselip juga sedikit rasa prihatin, ketika kami yang berjumpa saat itu sama-sama sepakat bahwa FEUI kita kini, sedang bukan Indonesia, karena banyak penentu kebijakan di republik ini yang non FEUI…; padahal dahulu angkatan kita-kita di era 70-an, 80-an hingga awal 90-an masih menyanyikan lagu mapram/ospek “FEUIku kini, Indonesiaku kemudian.” Walaupun bila diinventarisasi, belakangan ini penugasan yang strategis kepada sejumlah alumni kita, kembali telah menandai berkibarnya kiprah FEUI dalam berkontribusi kepada kehidupan bangsa : Eri 75 di BEJ, Emir 79 di Garuda, Agus 75 di Bank Mandiri, Arwin 74 di Telkom, dan mungkin ada lagi lainnya yang belum terpantau oleh kita. Memang perlu dicari cara untuk kita lebih saling tahu dan membantu perkembangan yang satu dengan yang lainnya.
Kita yakin bahwa kiprah kita, FEUI, tetap besar dalam sejumlah bidang kehidupan. Tengoklah di media pertelevisian (penyiar dan direktur programnya FEUI-an); di beberapa kantor akuntan terkemuka, analis terkemuka di pasar modal, atau di perusahaan-perusahaan swasta lainnya. Belum lagi para think-tank muda kita seperti Ican, Chatib, Ari Perdana dan lainnya, yang jelas-jelas sekali menjadi andalan para tokoh senior pemerintahan yang mereka bantu. Tetapi, demi kemajuan bersama tetap diperlukan otokritik. Ternyata, di pemerintahan, misalnya di Depkeu, FEUI-an muda minim sekali, apalagi lagi di Departemen Perindustrian , Perdagangan, atau Bappenas. Bisakah kita membayangkan di Depkeu, Depperdag, Depperin, Bappenas kelak tidak ada FEUI-annya? Konon seorang tokoh World Bank ketika mengomentari mengapa Depkeu saat ini lemah sekali dari segi kebijakan…; yakni karena di sana sudah jarang FEUI-nya dan terlalu banyak kalangan “anu”nya…(tetapi ini kata si pejabat WB itu lho !). Dari mana mulainya bila kita bersama ingin mensikapi hal tersebut ? Semoga dalam pertemuan Forum Angkatan FEUI dengan Dekan dan Ketua Iluni akhir Juli nanti hal tersebut dapat jadi kajian bersama.
Memang diperlukan usaha terus menerus untuk menjadikan FEUI kita ini seperti sekarang. Untuk mempertahankan dam meningkatkan kembali perannya di tanah air diperlukan usaha keras dan sistematis oleh pimpinan FEUI dan eksponen alumni yang tidak kalah dengan usaha para pendahulu kita. Generasi dan kondisi FEUI di kemudian hari akan bergantung kepada hasil kerjasama alumni dan keluarga besar FEUI saat ini. Agaknya, ide Ilham dan Denis ’75, yang akan mempelopori agar angkatan terdahulu yang kuliah berbiaya murah, saat ini mengembalikan subsidi yang diterimanya itu ke Yayasan Dana Abadi FEUI yang sudah terbentuk tahun lalu, untuk digunakan bagi kepentingan kampus. Ide yang baik, tindakan yang baik perlu ditiru dan diperkuat. Saya lantas ingat Pak Djun, Dekan FEUI 70-an s/d 80-an, dengan dedikasi berkeliling kampus setiap pagi, melihat penyelenggaraan kelas-kelas, pembersih taman bekerja sehingga memberi kesan bahawa kampus kita tercinta itu ada yang mengurusi dan niteni setiap waktu. Saya pun mulai meniru sang Pak Djun, dan mulai berkeliling setiap pagi (ini memang GR, karena cuma deputy kok pake keliling segala, siapa yang nyuruh ???). Mari… berlomba-lomba dalam kebaikan.
* Deputi Kerjasama dan Hubungan Alumni FEUI
darwin z.saleh