Sejak dipilih menjadi Direktur Utama PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada RUPS 15 April 2002 lalu, satu program utama lelaki kelahiran Bandung tahun 1955 Erry Firmansyah adalah meninjau kembali keberadaan perusahaan anggota bursa (emiten). Syarat perusahaan untuk masuk bursa dipermudahnya. Asal perusahaan sehat, belum untung tidak apa-apa, yang penting prospektif memperoleh laba. Terobosannya, melesatkan BEJ.
Bersamaan itu, dia juga mengincar tak kurang 5.000 perusahaan baru agar mau masuk bursa. Kalau para pengusaha mengandalkan dana untuk pengembangan modal hanya dari jasa perbankan, maka, dana yang didapat sangat terbatas. Padahal, perusahaan anggota bursa yang memiliki kinerja baik akan bisa mendapatkan dana yang tidak terbatas dari pasar modal.
Syarat perusahaan untuk masuk bursa lalu dipermudahnya. Kata Erry, asal perusahaan sehat, belum untung tidak apa-apa yang penting prospektif memperoleh laba. Cuma butuh waktu 45 hari sejak didaftarkan di Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam).
Keberaniaan Erry mengajak ribuan perusahaan masuk bursa didukung oleh kenyataan bahwa masyarakat sesungguhnya mempunyai potensi besar sebagai investor pasar modal. Ada 3,5 juta rakyat Indonesia yang mempunyai pendapatan perkapita setara penduduk Singapura. Dia pun melihat, seliweran mobil-mobil mewah seperti Jaguar, BMW seri 7 maupun Porche menunjukkan ada banyak orang kaya di Jakarta maupun di kota-kota besar lain. Mereka potensial untuk digarap.
Jika ingin contoh lain, bisnis bagi hasil agrobisnis Alam Raya di Sukabumi yang berhasil mengumpulkan dana masyarakat hingga ratusan milyar rupiah, belum lagi puluhan perusahaan agribisnis sejenis yang ternyata cenderung lebih merugikan masyarakat, menunjukkan kuatnya kemampuan kapital rakyat banyak. Namun mereka kurang memperoleh informasi investasi yang ideal dan aman.
”Kenapa ini sering terjadi? Kenapa investor tidak membeli saja saham di pasar modal yang sudah jelas. Ini berarti pasar modal kita masih kurang populer atau memang karena masyarakat kita senang ditipu?,” Erry Firmansyah, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tahun 1981 ini mencoba beretorika. ”Saya menyadari bahwa pasar modal atau bursa efek belum begitu dikenal masyarakat. Jadi, kita perlu sosialisasi lagi.”
Erry, ayah dua orang anak laki-laki ini sudah bertekad bulat menjadikan pasar modal sebagai lahan investasi yang menarik. Demi gong popularitas bursa saham, di awal tahun 2004 dia mengajak Presiden Megawati dan sejumlah anggota kabinet menyaksikan langsung pembukaan perdagangan perdana saham di BEJ. Kerjasama dengan pers pun dieratkan. Apa yang dia peroleh memang istimewa. Ketika pertamakali memimpin BEJ dia hanya berharap angka Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) stabil pada posisi 550. Namun setelah Ibu Presiden dan para menteri menunjukkan dukungan pada produk kapitalis ini angka dimaksud nyaris sudah mendekati 800 –setelah sempat menembus angka 785.
Bursa Efek Jakarta diakui masih belum seberapa dibanding bursa asing seperti Nasdaq, New York Stock Exchange, atau bursa saham di London, Jepang, Hong Kong dan lain-lain. Selain angka IHSG masih rendah, anggota bursa masih sedikit, usia keaktifan BEJ pun baru seperempat abad. Namun adalah Erry Firmansyah yang piawai memainkan setiap gejolak yang ada di bursa asing terkenal demi memperoleh dana dari investor luar. Seperti, pernah runtuhnya berbagai indeks di bursa asing sebagai efek domino skandal akuntansi Amerika Serikat yang telah menenggelamkan raksasa Enron, WorldCom, dan Merck itu berhasil dimanfaatkan Erry sebagai peluang mengundang investor asing masuk ke BEJ.
”Pasar modal Indonesia tidak lebih buruk dari Amerika,” kata Erry Firmansyah mencoba bijak tanpa bermaksud berapologi atas berbagai skandal yang juga pernah menimpa BEJ. Dia lalu semakin giat mempercantik bursa agar laku dipertontonkan di hadapan investor asing. Sementara kepada investor lokal Erry sudah berketetapan hati bahwa segenap jajaran direksi BEJ harus melakukan road show ke kota-kota besar untuk menjelaskan pasar modal, mulai Sumatera hingga Indonesia Bagian Timur.
Erry menunjukkan, ada indikator sederhana yang bisa membuktikan keberhasilan dana nganggur milik asing telah masuk ke Indonesia melalui BEJ, terutama pasca kejatuhan Enron, WorldCom, dan Merck. Menurutnya, pada tahun 2001 rata-rata transaksi harian di BEJ 603,2 juta lembar saham senilai Rp 396 miliar. Pada tujuh bulan pertama tahun 2002, volume transaksi saham menjadi 861,8 juta lembar saham senilai Rp 576,1 miliar.
Indikator lain, pada private placement PT Telkom 92 persen dana yang terserap berasal dari investor asing, demikian pula saat penjualan perdana (IPO) PT Surya Citra Media pengelola stasiun TV SCTV itu 80 persen pemesan saham adalah asing. Erry pun meyakini bahwa dana-dana asing lainnya tidak lagi mengarah hanya ke saham-saham blue chips berkapitalisasi besar, melainkan telah pula menyentuh saham second liner, seperti saham consumer product, chemical, dan farmasi.
Erry, lelaki kelahiran Bandung tahun 1955 dikenal sangat profesional. Dia pernah duduk sebagai senior auditor pada kantor akuntan Drs. Hadi Susanto && Co. Antara tahun 1990 hingga 1996 menempati posisi direktur pada PT Lippoland Development, dan sebelum ditunjuk menjadi Dirut BEJ selama beberapa tahun dipercaya sebagai direktur utama pada PT KSEI.
Setelah memimpin BEJ dia mulai merasakan bahwa waktunya dalam sehari semakin singkat saja. Sejumlah hobinya seperti memancing dan jogging mulai jarang disentuh. Dia memang berobsesi agar BEJ bisa setara dengan bursa-bursa penting lainnnya di dunia. Kepada emiten-emiten kecil, yang kebetulan adalah usaha kecil menengah (UKM) yang sedang sakit, coba diperbaiki kinerjanya sebab tidak semua mereka itu jelek. Polesan diperlukan agar bursa tetap memiliki daya pikat terhadap investor.
Pemberian bantuan dirasakan pula sebagai dukungan terhadap keputusan politik pemerintah yang ingin memberikan perlindungan kepada UKM. Kepada emiten kecil yang kurang beruntung atau tidak prospektif, Erry menyebutkan mereka tidak bisa diperlakukan semena-mena sebab sejatinya sebagai anggota bursa mereka telah lebih dahulu lolos dalam review yang dilakukan Bapepam serta seleksi BEJ. Karena itu, dipesakannya agar sebaiknya investorlah yang lebih selektif agar tidak mudah termakan rumor.
Pesan itu disampaikan Erry terkait pula dengan posisinya sebagai Dirut BEJ yang harus membantu anggota sekaligus menyehatkan bursa. Karena itu dia sudah membuang jauh-jauh dari kamusnya tindakan pencoretan perdagangan saham dari bursa atau delisting. Sekali dicoret, yang menjadi pertanyaan Erry adalah bagaimana nasib dan keamanan uang investor emiten tersebut.
Bagi dia, setiap perusahaan yang berkinerja baik namun memiliki keterbatasan modal adalah wajib hukumnya untuk masuk bursa mencari dana secara tak terbatas. Bukan cuma perusahaan, dicontohkannya, klub-klub raksasa olahraga seperti sepakbola dan basket maupun restoran di Amerika, Inggris dan Italia lebih memilih pasar modal untuk mendapatkan dana. Namun sekali masuk bursa tidak perlu berambisi menjadi emiten blue chips, sebab di bursa manapun, contohnya di Amerika, dari ribuan emiten paling hanya beberapa saja yang tergolomg blue chips.
Penyuka mancing dan jogging di hari libur ini menjelaskan pula, jika pendahulunya telah merintis pelaksanaan good corporate governance maka adalah tugas ekstranya sekarang untuk menertibkan para manipulator pasar yang seringkali “menggoreng” harga saham atau melakukan tipuan insider trading. Kasusnya memang rada abu-abu. Pembuktiannya agak sulit. Walau demikian, aku Erry, BEJ dan Bapepam tidak diam atas berbagai kasus yang terjadi. Berdasar pengalamannya, Erry melihat para perlaku sangat canggih menjalankan aksi jahatnya sehingga tidak mudah diungkap.
”Kita sadar ada kelemahan di sini, tetapi susah untuk mengungkapkan dan membuktikannya,” kata Erry. Untuk mengatasi kesulitan itu BEJ dalam jangka pendek akan bekerja lebih erat dengan Bapepam, sekalian meperbaiki peraturan yang ada. Juga akan aktif melakukan sosialisasi kepada para pelaku, dan konsistens memberikan sanksi.
Jika terbukti melakukan insider trading Erry berjanji harus ditangkap tidak peduli lokal atau asing, karyawan, menteri dan siapa pun. ►ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)